October 21, 2008

Ada Apa Dengan Kita?

Posted in Uncategorized at 4:11 pm by jkt3

Ada Apa Dengan Kita?

Saudaraku, saat mobil mewah dan mulus yang kita miliki tergores, goresannya bagai menyayat hati kita. Saat kita kehilangan handphone di tengah jalan, separuh tubuh ini seperti hilang bersama barang kebanggaan kita tersebut. Saat orang mengambil secara paksa uang kita, seolah terampas semua harapan.

Tetapi saudaraku, tak sedikitpun keresahan dalam hati saat kita melakukan perbuatan yang melanggar perintah Allah, kita masih merasa tenang meski terlalu sering melalaikan sholat, kita masih berdiri tegak dan sombong meski tak sedikitpun infak dan shodaqoh tersisihkan dari harta kita, meski disekeliling kita anak-anak yatim menangis menahan lapar. Saudaraku, ada apa dengan kita?

Saudaraku, kata-kata kotor dan dampratan seketika keluar tatkala sebuah mobil yang melaju kencang menciprati pakaian bersih kita. Enggan dan malu kita menggunakan pakaian yang terkena noda tinta meski setitik dan kita akan tanggalkan pakaian-pakaian yang robek, bolong dan menggantinya dengan yang baru.

Tetapi saudaraku, kita tak pernah ambil pusing dengan tumpukan dosa yang mengotori tubuh ini, kita tak pernah merasa malu berjalan meski wajah kita penuh noda kenistaan, kita pun tak pernah tahu bahwa titik-titik hitam terus menyerang hati ini hingga saatnya hati kita begitu pekat, dan kitapun tak pernah mencoba memperbaharuinya. Saudaraku, ada apa dengan kita?

Saudaraku, kita merasa tidak dihormati saat teguran dan sapaan kita tidak didengarkan, hati ini begitu sakit jika orang lain mengindahkan panggilan kita, terkadang kita kecewa saat orang lain tidak mengenali kita meski kita seorang pejabat, pengusahan, kepala pemerintahan, tokoh masyarakat bahkan orang terpandang, kita sangat khawatir kalau-kalau orang membenci kita, dan berat rasanya saat orang-orang meninggalkan kita.

Tetapi juga saudaraku, tidak jarang kita abaikan nasihat orang, begitu sering kita tak mempedulikan panggilan adzan, tak bergetar hati ini saat lantunan ayat-ayat Allah terdengar ditelinga. Dengan segala kealpaan dan kekhilafan, kita tak pernah takut jika Allah Yang Maha Menguasai segalanya membenci kita dan memalingkan wajah-Nya, kita pun tak pernah mau tahu, Baginda Rasulullah mengenali kita atau tidak di Padang Masyhar nanti. Kita juga, tak peduli melihat diri ini jauh dari kumpulan orang-orang sholeh dan beriman.

Saudaraku, tanyakan dalam hati kita masing-masing, ada apa dengan kita?

Wallahu a’lam bishshowaab

(Bayu Gautama)

Sumber: eramuslim

Advertisements

Maka, Menangislah Seterusnya

Posted in Untuk Qta at 4:09 pm by jkt3

Maka, Menangislah Seterusnya

Kalau saja Allah swt mengabulkan permintaan Musa alaihi salam untuk bisa melihat wajah-Nya, kalau saja Allah menghapuskan keterbatasan yang dimiliki oleh sepasang mata manusia untuk bisa melihat semuanya tanpa batas ruang dan waktu, dan kalau saja Allah menghendaki setiap manusia bisa melihat jauh kebelakang dan menatap masa depan, tentulah semua manusia akan bertaqwa kepada-Nya.

Tentu ada hikmah dibalik keterbatasan mata yang Allah berikan, tentu besar pula pelajaran yang diambil Musa saat Allah berniat mengabulkan permintaannya untuk melihat bentuk Tuhan semesta alam. Saat itu, cahaya kemilauan hampir saja membutakan mata saudara Harun alaihi salam itu, padahal Allah baru sekedar berniat memperlihatkan wajah agung-Nya.

Melihat jauh sampai ke ujung rel saat kita berada ditengah-tengah rel kereta api saja kita sudah tak mampu. Takkan kuat mata memandang terik sang surya secara terus menerus, sepasang mata ini pun takkan mampu menembus apa yang ada dibalik ruang, tak mampu menengok jauh ke peristiwa lampau dan takkan pernah sanggup menerawang kedepan sebelum kita benar-benar melalui masa tersebut.

Tentu ada hikmah ketika Allah tak mengizinkan sepasang mata ini melakukan hal diluar keterbatasan itu. Bayangkan jika manusia bisa memandang wajah Allah yang maha Agung -nikmat ini hanya bisa didapati oleh mereka yang menempati surga Allah kelak- tentu tidak ada manusia yang sombong, merasa lebih besar, lebih hebat, dan lebih segalanya.

Bayangkan pula jika manusia diberi kesempatan Allah untuk melihat masa lalu dengan segala apa yang pernah dilakukannya tanpa batas ruang dan waktu, tentu tidak ada manusia yang ingin hidup lebih lama menyaksikan tumpukkan dosa yang menggunung.

Bayangkan pula jika manusia mampu menerobos ruang waktu terdepan kehidupan manusia, tentu tidak satupun manusia yang tertawa dalam hidupnya karena menyaksikan betapa menyayatnya sakaratul maut, pedihnya siksa kubur, panasnya api neraka Allah dan dahsyatnya yaumil akhir. Astaghfirullaahal adziim.

Tentu, saat Allah tetap memberikan keterbatasan atas sepasang mata pemberianNya ini.

Sungguh berbahagialah orang-orang yang tetap tunduk atas keagungan Allah yang maha besar.

Sungguh berbahagialah mereka yang kerap menangis dalam mengingat mati, membayangkan pedihnya azab Allah seraya mengais agar Allah menyertakannya dalam golongan yang menerima nikmatnya surga, berharap Baginda Rasulullah mengenalinya sebagai ummatnya di akhirat kelak.

Sungguh, titik-titik air mata yang kerap membasahi saat sujud kita, ia akan menjadi saksi betapa takutnya kita akan azab Allah, dan betapa berharapnya kita akan pertolongan-Nya.

Wallahu a’lam bishshowaab.

(Bayu Gautama)

Sumber: eramuslim

Bayangkan Saat Maut Menjemput

Posted in Untuk Qta at 4:00 pm by jkt3

Bayangkan Saat Maut Menjemput

Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari beberapa orang yang hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara kita menghadap Rabb-nya, tidak peduli ia siap atau tidak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat.

Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat.

Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah.

Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat.

Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su’ul khotimah, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur. Na’udzubillaahi min dzaalik

Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah-tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, “Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk”. Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, “Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman” Tapi, atas kehendak Allah jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan.

Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu? (Bayu Gautama)

Sumber: eramuslim