October 21, 2008

Maka, Menangislah Seterusnya

Posted in Untuk Qta at 4:09 pm by jkt3

Maka, Menangislah Seterusnya

Kalau saja Allah swt mengabulkan permintaan Musa alaihi salam untuk bisa melihat wajah-Nya, kalau saja Allah menghapuskan keterbatasan yang dimiliki oleh sepasang mata manusia untuk bisa melihat semuanya tanpa batas ruang dan waktu, dan kalau saja Allah menghendaki setiap manusia bisa melihat jauh kebelakang dan menatap masa depan, tentulah semua manusia akan bertaqwa kepada-Nya.

Tentu ada hikmah dibalik keterbatasan mata yang Allah berikan, tentu besar pula pelajaran yang diambil Musa saat Allah berniat mengabulkan permintaannya untuk melihat bentuk Tuhan semesta alam. Saat itu, cahaya kemilauan hampir saja membutakan mata saudara Harun alaihi salam itu, padahal Allah baru sekedar berniat memperlihatkan wajah agung-Nya.

Melihat jauh sampai ke ujung rel saat kita berada ditengah-tengah rel kereta api saja kita sudah tak mampu. Takkan kuat mata memandang terik sang surya secara terus menerus, sepasang mata ini pun takkan mampu menembus apa yang ada dibalik ruang, tak mampu menengok jauh ke peristiwa lampau dan takkan pernah sanggup menerawang kedepan sebelum kita benar-benar melalui masa tersebut.

Tentu ada hikmah ketika Allah tak mengizinkan sepasang mata ini melakukan hal diluar keterbatasan itu. Bayangkan jika manusia bisa memandang wajah Allah yang maha Agung -nikmat ini hanya bisa didapati oleh mereka yang menempati surga Allah kelak- tentu tidak ada manusia yang sombong, merasa lebih besar, lebih hebat, dan lebih segalanya.

Bayangkan pula jika manusia diberi kesempatan Allah untuk melihat masa lalu dengan segala apa yang pernah dilakukannya tanpa batas ruang dan waktu, tentu tidak ada manusia yang ingin hidup lebih lama menyaksikan tumpukkan dosa yang menggunung.

Bayangkan pula jika manusia mampu menerobos ruang waktu terdepan kehidupan manusia, tentu tidak satupun manusia yang tertawa dalam hidupnya karena menyaksikan betapa menyayatnya sakaratul maut, pedihnya siksa kubur, panasnya api neraka Allah dan dahsyatnya yaumil akhir. Astaghfirullaahal adziim.

Tentu, saat Allah tetap memberikan keterbatasan atas sepasang mata pemberianNya ini.

Sungguh berbahagialah orang-orang yang tetap tunduk atas keagungan Allah yang maha besar.

Sungguh berbahagialah mereka yang kerap menangis dalam mengingat mati, membayangkan pedihnya azab Allah seraya mengais agar Allah menyertakannya dalam golongan yang menerima nikmatnya surga, berharap Baginda Rasulullah mengenalinya sebagai ummatnya di akhirat kelak.

Sungguh, titik-titik air mata yang kerap membasahi saat sujud kita, ia akan menjadi saksi betapa takutnya kita akan azab Allah, dan betapa berharapnya kita akan pertolongan-Nya.

Wallahu a’lam bishshowaab.

(Bayu Gautama)

Sumber: eramuslim

Bayangkan Saat Maut Menjemput

Posted in Untuk Qta at 4:00 pm by jkt3

Bayangkan Saat Maut Menjemput

Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari beberapa orang yang hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara kita menghadap Rabb-nya, tidak peduli ia siap atau tidak. Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat.

Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Izrail pesuruh Allah menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya. Ketahuilah, Rasulullah manusia kecintaan Allah dan para malaikat-pun menjerit keras merasakan pedihnya sakaratul maut. Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat.

Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Allah dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah.

Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat.

Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk memenui Allah. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan su’ul khotimah, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur. Na’udzubillaahi min dzaalik

Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Allah mengizinkan tanah-tanah merah yang juga makhluk Allah itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin Allah- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, “Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk”. Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, “Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman” Tapi, atas kehendak Allah jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan.

Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Allah masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu? (Bayu Gautama)

Sumber: eramuslim

July 8, 2008

Islam is Our Way!

Posted in Untuk Qta at 2:30 pm by jkt3

Suatu hari ada sebuah percakapan antara Akhi dan Ukhti.

Akhi : Assalamu’alaikum ya Ukhti…
Ukhti : Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
Akhi : Ukht, kalo kita mau masuk surga kan kita harus buka pintu surga yang banyak buangett. Lha pastinya kita butuh kunci donk! Eh, sebenarnya kunci surga tu apaan to?
Ukhti : Ya… Akh, masa’ gak tau sih?
Akhi : Beneran ni na tanya!
Ukhti : Akh, kunci surga tu kan Islam.
Akhi : Masa’ begitu aja jawabane??
Ukhti : Oke, sekarang na yang tanya ya…Agar agama yang kita anut ini berdiri tegak kita harus ngapain?
Akhi : Ya kita harus melaksanakan syariahNya. Misalnya saja sholat. Sholat kan tiangnya agama, betul???
Ukhti : Lha agar sholat kita diterima, kita harus melakukan apa sebelum sholat?
Akhi : Ya wudlu dulu lah… Masa’ langsung sholat? tu kan salah satu syarat syahnya sholat.
Ukhti : Pinter…
Akhi : Kesimpulannya?
Ukhti : So, wudlu dulu yang bener agar bisa sholat yang bener juga. Kan kalo sholatnya bener, amalan yang lain juga akan mengikuti ke jalan yang bener…
Akhi : Maksud anty, Inna sholata tanha ‘anil fahsyai wal munkar?
Ukhti : Yuph, bener bangetz! Sholat itu pencegah keji dan mungkar. Jadi kita akan mendapatkan kunci ibadah buwat buka pintu surga…
Akhi : Ooo… gitu to!
Ukhti : Ya iya lah… Masa’ ya iya donk.
Akhi : Kan bismillah bukan bismidonk!
Ukhti : Akh, ingat! 1001 jalan menuju ke Roma, 1 jalan menuju Surga. ISLAM IS OUR WAY!
Akhi : ALLAHU AKBAR! Jazakumullah ukhti…
Ukhti : Waiyyakum ya akhi. Assalamu’alaikum…
Akhi : Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.

April 4, 2008

Jilbab dalam Kristen & Islam

Posted in Untuk Qta at 1:38 am by jkt3

JILBAB DALAM KRISTEN & ISLAM

jilbab-moslem.jpg

Rasulullah pernah bersabda : “Akan datang suatu masa dimana banyak wanita telanjang meskipun berpakaian. Mereka berkeinginan agar para pria tertarik kepada mereka dan mereka tertarik kepada para pria itu. Para wanita itu bahkan tidak berhak mencium bau surga”

Jilbab itu menghapus rasa iri dari kesenjangan ekonomi yang mungkin ada. Jilbab menggambarkan status yang sama pada wanita Muslim. Apakah mereka miskin atau kaya, Jilbab memberikan kehormatan dan martabat yang sama bagi setiap wanita.

Dapatkah seorang pria bekerja dengan kosentrasi dan baik jika disekelilingnya duduk atau berdiri seorang wanita yang berpakaian sexi dan minim dengan rok mini, sepatu hak tinggi dan belahan dada yang aduhai???

Orang barat sering menganggap wanita Muslim adalah kaum rendah, karena memakai Jilbab. Orang barat merasa bangga dengan emansipasi wanitanya, dimana wanita bebas memakai pakaian dari yang tertutup sampai yang setengah telanjang alias “Bikini”, bahkan ada perkumpulan yang mana disitu semua harus telanjang. Tetapi secara umum wanita barat suka yang agak buka-bukaan dalam berpakaian alias yang sexi-sexi. Banyak dari mereka suka jika bisa menarik lawan jenis dan berakhir di tempat tidur.

Bagi Barat, lembaga perkawinan pun kini sudah rapuh. Kehidupan perkawinan menjadi beban, dan bagi Barat konsep tersebut adalah sesuatu yang tolol, termasuk pakaian yang menutup seluruh tubuh. Mereka menganggap pakaian tertutup rapat seperti itu adalah belenggu. Itulah mengapa di Barat marak hidup serumah tanpa perkawinan “Kumpul Kebo”. Bahkan ada yang sampai mempunyai anak tetapi mereka tidak menikah. Dan sungguh hal yang memprihatinkan jika sampai orang timur seperti Indonesia ikut-ikutan gaya mereka.

Sungguh suatu yang aneh bahwa mereka mengaku beragama Kristen tetapi tidak membaca Kitabnya. Di Islam juga banyak orang yang beragama Islam tetapi mereka tidak membaca Kitab Sucinya. Bahkan banyak umat Islam yang entah tidak tahu atau tidak mau tahu mengatakan bahwa perintah Jilbab tidak ada dalam Al-Quran.

Jilbab sebenarnya adalah syariat yang diturunkan oleh para nabi, khususnya  sejak Ibrahim hingga Muhammad. Dalam Injil pun Yesus (Nabi Isa) memerintahkan wanitanya untuk menutup tubuh mereka. Kalau kita lihat para biarawati di Film-film Hollywood, tampak bahwa mereka memakai Jibab, tetapi hanya biarawati, lainnya tidak. Sedangkan di Islam semua wanita baik Ustadzah, pegawai kantor, ibu rumah tangga dll diwajibkan memakai Jilbab saat di muka umum (diluar keluarga). Wanita Muslim yang sudah dewasa tetapi tidak memakai Jilbab mungkin  dia tidak tahu kalau Allah memerintahkannya dalam Al-Quran atau mereka memang kaum yang membangkang.

Sebenarnya Jilbab itu tidak memandang siapa yang memakainya, entah itu wanita Pendosa atau wanita shaleh. Semua wanita dari golongan atas sampai bawah, dari yang bermoral jelek (Pendosa) atau bermoral bagus (shaleh), semua harus memakai Jilbab. Itu adalah salah kalau banyak kalangan berpendapat bahwa Jilbab hanya untuk wanita yang sudah beragama bagus, dan yang belum beragama bagus tidak usah memakai daripada mengotori. Sehingga banyak kalangan wanita merasa belum siap memakai Jilbab karena merasa agamanya belum bagus.

Ingat dalam menutup tubuh usahakan lekuk-lekuk tubuh dapat dihilangkan semaksimal mungkin (jangan pakai Jilbab ketat). Banyak Umat Muslim yang memakai Jilbab tetapi ketat. Jilbab yang mereka pakai sama saja pakaian menyelam, karena meski tubuh tertutup tetapi lekuk-lekuk tubuh kelihatan (berpakaian tetapi telanjang). Inti menutup tubuh itu bukan sekadar menutub tubuh, tetapi sebisa mungkin menyamarkan bentuk tubuh (tidak kelihatan lekuk-lekuknya).

Dalam berjilbab pun banyak pendapat atau aliran. Ada yang tertutup penuh, ada yang kelihatan muka sama telapak tangan, ada yang kainnya polos, ada yang kainnya bermotif, itu terserah kemantapan hati mereka. Boleh saja memakai Jilbab seperti itu (entah tertutup penuh, Modis, biasa dll) asal kriteria diatas dipenuhi.

“Ketika seorang pria melihat wanita yang berjilbab, maka pandangannya akan berhenti pada Jilbab itu saja. Mereka tidak dapat meneruskan pandangannya lebih jauh ke tubuh wanita yang bersangkutan”. (Karimah Umar-Mualaf Amerika)

Dalam Injil disebutkan :

TIMOTIUS I (2 : 19)

“Bahwa wanita harus berpakaian menutupi kemaluannya, mereka begitu bersinar dan memiliki fisik yang unik, mereka punya area yang tertutup dan mempunyai rambut keemasan. Jadi yang harus dilakukan adalah harus menutupinya”.

KORINTUS I (11 : 5-6)

Dikatakan bahwa Wanita yang tidak menutupi kepalanya sebaiknya mencukur rambutnya sampai habis

Dalam Al-Quran disebutkan :

QURAN SURAT 7 : 26

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. 

QURAN SURAT  24 : 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung 

QURAN SURAT 24 : 60

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.  

Dalam Surat 24 ayat 31 diatas dimulai dengan kata “……. janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya”. Yang biasa nampak tentu saja Wajah (leher keatas), tangan  dan kaki (tapi konteks disini adalah muka dan telapak tangan, jika diteruskan ke kalimat selanjutnya). Dilanjutkan Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, maksudnya yaitu bahwa kain kudung adalah kain yang menutup kepala, jadi hendaknya kain kudung tersebut menutup juga sampai dadanya tetutup. Maksudnya yaitu bahwa wanita harus menutup tubuhnya sehingga perhiasannya dalam konteks awal kalimat cuma nampak muka dan telapak tangan (tangan se -sepergelangan tangan) , dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka…., atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Kata perhiasan diatas tentu maknanya luas.Dalam kalimat awal si wanita kondisinya sudah tertutup tubuhnya, jadi bisa saja perhiasan disini adalah sejenis barang mulia atau mungkin bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan dan kaki (tidak bagian tubuh utama).

Maksud dari ayat ini bahwa di dalam keluarga sendiri boleh tidak berjilbab selama disitu tidak ada lelaki yang bukan muhrimnya, atau di luar keluarga juga boleh tidak ber-Jilbab selama yang ditemui laki-laki yang tidak memiliki keinginan terhadap wanita atau pun anak-anak yang belum mengetahui tentang aurat. Tetapi kalau ada laki-laki normal yang lain, wajib pakai Jilbab.

Dalam Surat 24 : 60 dimaksudkan bahwa wanita yang sudah tua yang sudah tidak begitu menarik lagi boleh tidak berjilbab (sunah hukumnya). Karena Jilbab itu hukumnya wajib berlaku bagi wanita yang sudah dewasa (Baligh) sampai usia tua, tetapi hukumnya menjadi sunah ketika wanita sudah tua.  

Itu adalah benar bahwa Umat Islam adalah lebih “Kristen” dari umat Kristen. Bahwa umat Islam menjalankan seluruh ajaran Yesus yang diungkap kembali oleh Nabi terakhir yaitu Muhammad, setelah pengikut Yesus menyelewengkan ajaran Yesus.

Kalau kita lihat di negara tempat Islam lahir (Arab), semua wanita yang beragama Islam memakai Jilbab. Diluar Arab, seperti Indonesia, lambat laun para wanitanya memakai Jilbab. Yang jadi pertanyaan mengapa tidak dari dulu wanita Indonesia memakai Jilbab?. Hal itu dikarenakan masih banyak orang Islam di Indonesia yang belum mengetahui ajaran Islam yang benar itu sendiri.

Islam masuk Indonesia sekitar abad 13 dan saat itu bermunculan kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi belum sempat Islam diajarkan secara betul datanglah Penjajah pada tahun 1400-an. Dan otomatis umat Islam saat itu disibukkan untuk mengusir penjajah, sehingga Syar Islam terhambat. Jadi banyak yang beragama Islam tetapi belum tahu secara mendalam tentang Islam. Hal itu berlangsung selama hampir 350 tahun selama penjajahan Belanda. Setelah Indonesia merdeka, baru umat Islam Indonesia mulai mendalami Islam lagi dan sebagian mulai memakai Jilbab.

Yang sudah mengerti akan memakai Jilbab dengan benar (menutup tubuh sekaligus menyamarkan lekukan tubuh). Yang baru mengerti dan belajar mungkin baru sebatas menutup tubuh tetapi tidak sepenuhnya atau berjilbab tetapi masih kelihatan lekukan tubuh. Yang belum mengerti ya seperti anda-anda kaum wanita yang lebih suka dilihatin mata lelaki, anda-anda yang pakai rok mini, dada terbelah kelihatan setengah dll.

Bagi anda-anda yang ingin beragama secara benar, maka mulailah melakukan kebenaran dari yang kecil dulu semampu kita.

BY MAGE (dari berbagai sumber)

April 1, 2008

Teman, Sesibuk Apakah Kalian…?

Posted in Untuk Qta at 4:01 pm by jkt3

TEMAN, SESIBUK APAKAH KALIAN…?

 

Teman….
Seringkali kita mengeluh
Menyesalkan tugas-tugas kuliah yang begitu banyak
Menyesalkan kerja-kerja kelompok yang melelahkan
Menyesalkan kuliah-kuliah yang begitu membosankan
Menyesalkan nilai-nilai ujian yang tidak memuaskan
Meski semua itu karena kemalasan kita
yang terlalu sering mengabaikan dan menunda-nunda pekerjaan

Namun mereka tidak mengeluh
Ketika harus repot-repot mengumpulkan batu
Ketika harus berlari di tengah terik matahari
Ketika harus berhadapan dengan tank-tank yang siap melindas mangsa
Ketika harus melihat darah di setiap langkah
Ketika harus menyaksikan orang-orang yang dikasihi, diusir dan disiksa
bahkan ketika mereka harus menahan pedihnya timah panas yang menembus tubuh

Meski semua itu, bukan salah mereka.
Semua itu hanya karena ingin mereka ingin hidup diakui sebagai manusia
hanya karena mereka ingin mempertahankan negerinya
hanya karena mereka ingin menjaga masjid tempat mereka beribadah menyembah Tuhannya.

Teman,,,
seringkali kita menjadi orang yang paling sibuk
Punya amanah di mana-mana, apalagi jabatan ketua
Waktu habis untuk rapat dan mengadakan acara
Seringkali kita juga banyak berkorban
Waktu, tenaga, fikiran bahkan uang jatah bulanan habis kita korbankan untuk menutup kekurangan dana.

Tapi sadarkah kita, bahwa ada yang lebih sibuk dari kita?
Saudara kita di negeri sana, jauh lebih sibuk dari kita
Kalau kesibukan kita sekedar rapat dan mengadakan acara
Mereka sibuk menyelamatkan nyawa!

Kalau pengorbanan terbesar kita adalah harta, mereka telah berkorban jiwa dan raga!
Maka teman, sesibuk apapun kita, selelah apapun tubuh kita, jangan lupa doakan dan bantu mereka.

Siapkah kita…?

Posted in Untuk Qta at 3:57 pm by jkt3

Setiap hari kita kedatangan tamu,
mungkin keluarga, kolega atau kawan
biasa, satu hari nanti kita pasti akan
kedatangan tamu terakhir dalam hidup
kita. Dia datang tak disangka-sangka,
SIAPKAH KITA?

Ssstt! Dengar ia mengetuk kamar kita 3
kali, pelan pelan seraya lirih berucap
salam. Saat kubuka, “Oh, ternyata deru
angin. Rabbi, hembuskan angin kematianku
di puncak kebaikanku.”

“Ya Allah sebelum tiba hariku nanti,
antarkan aku bisa mempersembahkan yang
terindah dalam hidup ini, yaitu sirnanya
kepentingan diri dan kerinduan bisa
bersua denganMu dan juga RasulMu.”